• Kamis, 1 Desember 2022

Tradisi Malam Satu Suro di Bulan Muharram

- Selasa, 2 Agustus 2022 | 01:24 WIB
Ilustrasi, malam satu suro (Ilustrasi, malam satu suro)
Ilustrasi, malam satu suro (Ilustrasi, malam satu suro)




Orbid.id-Pada hari Jum’at tanggal 29 Juli 2022 merupakan tahun baru Islam. Perayaan ini diselenggarakan diberbagai daerah dengan meriah, ada yang melakukan pawai obor, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan melakukan berbagai kegiatan lainnya berdasarkan kebiasaan yang dilakukan masyarakat di daerahnya masing-masing. Bulan Muharram ini selalu bertepatan dengan bulan Suro yang merupakan bulan suci dan sakral dalam adat masyarakat Jawa.

 
Tradisi bulan Suro ini sudah berlangsung sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) yang merupakan raja pada kerajaan Mataram Islam. Masyarakat pada saat itu umumnya mengikuti tanggalan Tahun Saka, sedangkan kerajaan Mataram sudah menggunakan tanggalan Hijriyah (Islam). Karena keinginan Sultan Agung untuk menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Jawa, Sultan Agung berinisiatif untuk memadukan kalender saka dengan kalender Hijriyah.

 
Penyatuan kalender ini dimulai pada Jum’at  Legi Jumadil Akhir 1555 saka atau pada 1633 Masehi. Satu Suro merupakan tanggal pertama pada bulan Jawa yang bertepatan pada tanggal 1 Muharram pada kalender Hijriyah.

 
Hingga sekarang, pelaksanaan malam satu suro selalu dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat Jawa. Pelaksanaan satu suro dilakukan setelah Maghrib, karena dalam tradisi Jawa, pergantian hari dimulai pada saat matahari tenggelam bukan pada saat tengah malam.
Beragam tradisi masyarakat dilakukan pada malam satu suro ini. Bagi masyarakat Jawa pada umumnya, terutama masyarakat Solo, Surakarta dan Yogyakarta. Pada daerah Surakarta, mereka melakukan sebuah ritual yang dikenal dengan kirab kebo bule. Perayaan kebo bule adalah melakukan arak-arakan kebo bule yang dianggap sebagai pusaka keraton mengelilingi kota.


Sedangkan untuk keraton Solo dan Yogjakarta, perayaan malam satu suro identik dengan membawa keris dan benda-benda pusaka sebagai iring-iringan kirab. Tradisi malam satu suro ini menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya dalam acara yang diselenggarakan diselingi dengan pembacaan doa oleh semua umat yang hadir. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menjauhkan dari marabahaya.
Sepanjang bulan suro, masyarakat Jawa meyakini untuk terus ingat dan waspada. Ingat siapa dirinya dan memahami kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada adalah agar selalu terjaga dan sadar dari godaan yang menyesatkan. (Cut Aziza Dewi)

Editor: Rahma Yuniarsih

Tags

Terkini

Makna Logo ASEAN INDONESIA 2023

Kamis, 24 November 2022 | 20:46 WIB

3 Isu Prioritas dalam Pertemuan ASEAN di Tahun 2023

Kamis, 24 November 2022 | 20:19 WIB

Data Aplikasi PeduliLindungi Diretas Hacker Bjorka

Jumat, 18 November 2022 | 14:29 WIB
X